kangean sebagai tempat wisata



‘’PLANKTON’’
OELEH :
nihrawi
08.03.4.1.1.00024
JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TRUNOJOYO
BANGKALAN
2010
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laut merupakan sebuah ekosistem besar yang di dalamnya terdapat interaksi yang kuat antara faktor biotik dan abiotik. Interaksi yang terjadi bersifat dinamis dan saling mempengaruhi. Lingkungan menyediakan tempat hidup bagi organisme-organisme yang menempatinya sebaliknya makluk hidup dapat mengembalikan energi yang dimanfaatkkannya ke dalam lingkungan. Suatu daur energi memberikan contoh nyata akan keberadaan interaksi tersebut. Di laut terjadi transfer energi antar organisme pada tingkatan tropis yang berbeda dengan demikian terjadi proses produksi. Hirarki proses produksi membentuk sebuah rantai yang dikenal dengan rantai makanan (Notji, 2002).
Makhluk yang hidup di lautan salah satunya adalah plankton. Plankton merupakan salah satu makhluk hidup yang mempunyai peranan penting dalam kehidupan yang ada di dalam laut. Plakton disini dapat termagi menjadi plakton hewani (zooplankton) dan plankton nabati (fotoplankton). Fitoplanton berperan sebagai produsen primer karena fitoplankton dapat membuat makanan sendiri. Sedangkan zooplankton memiliki peran sebagai konsumen pertama karena langnsung memakan produsen primer (Romimohtarto dan Sri Juana,2005).
Untuk itu apabila kehidupan plankton di lautan terganggu maka siklus yang ada dalam laut dapat terganggu. Maka dari itu kita harus mempelajari tenteng kehidupan plankton agar dapat menjaga kelestariaannya.
1.2 Tujuan
II. METODELOGI
Materi yang didapat untuk pembuatan peper ini berasal dari :
a. Buku yang berjudul ‘Biola Ilmu Pengetahuan Tentang Biotan Laaut’, karangan Kasijan Romimohtarto dan Sri Juana.
b. Buku yang berjudul, “Laut Nusantara”, karangan Anugrag Nontji.
c. Internet
III. PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Plankton
Plankton berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti mengapung, Plankton biasanya mengalir bersama arus laut. Plankton juga biasanya disebut biota yang hidup di mintakat pelagic dan mengapung, menghanyutkan atau berenang sangat lincah, artinya mereka tidak dapat melawan arus. Ukuran Plankton sangat beranekaragam dari yang terkecil yang disebut Ultraplankton dengan ukuran <0,005 mikro, Nanoplankton yang berukuran 60-70 mikro, dan Netplankton yang dapat berukuran beberapa millimeter dan dapat dikumpulkan dengan jarring plankton. Makro plankton berukuran besar baik berupa tumbuhan ataupun hewan (Romimohtarto dan Sri Juana, 2005).
Plankton adalah setiap organisme hanyut ( hewan, tumbuhan, archaea, atau bakteri ) yang menempati zona pelagik samudera, laut, atau air tawar. Plankton ditentukan oleh niche ekologi mereka dari pada taksonomi filogenetik atau klasifikasi. Mereka menyediakan sumber makanan penting yang lebih besar, lebih dikenal organisme akuatik seperti ikan dan cetacea. Meskipun banyak spesies planktik ( atau bagian plankton lihat di Terminologi ) berukuran mikro dalam ukuran, plankton termasuk organisme meliputi berbagai ukuran, termasuk organisme besar seperti ubur-ubur (Sidiq. 2008).
Plankton memiliki peranan ekologis sangat penting dalam menunjang kehidupan di perairan. Tapi jika pertumbuhannya tidak terkendali akan merugikan. Plankton di Indonesia harus dapat dikendalikan mengingat lautan Indonesia sangat luas dan sulit terjangkau, ujar ahli ekologi laut, Dr Ir Ngurah Nyoman Wiadyana dalam orasi pengukuhan ahli peneliti utama bidang ekologi laut di LIPI Jakarta, beberapa waktu yang lalu. Meskipun berukuran relatif sangat kecil plankton memiliki peranan ekologis sangat penting dalam menunjang kehidupan di perairan. Sebab berkat fitoplankton yang dapat memproduksi bahan organik melalui proses fotosintesa, kehidupan di perairan dimulai dan terus berlanjut ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi dari tingkatan zooplankton sampai ikan-ikan yang berukuran besar, dan tingkatan terakhir sampailah pada ikan paus atau manusia yang memanfaatkan ikan sebagai bahan makanan (Ariviyanti, 2010)..
3.1.1 Fitoplankton
Fitoplankton (dari phyton Yunani, atau tumbuhan), autotrophic, prokariotik atau eukariotik alga yang hidup dekat permukaan air di mana ada cahaya yang cukup untuk dukungan fotosintesis. Di antara kelompok-kelompok lebih penting adalah diatom, cyanobacteria, dinoflagellates dan coccolithophores (Sunarto. 2010).
Fitoplankton menurut Davis (1951) adalah mikroorganisme nabati yang hidup melayang-layang di dalam air, relatif tidak mempunyai daya gerak sehingga keberadaanya dipengaruhi oleh gerakan air serta mampu berfotosintesis (Samawi, 2002).
Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 – 200µm (1 µm = 0,001mm). fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Fitoplankton merupakan organisme autotroph utama dalam kehidupan di laut. Melalui proses fotosisntesis yang dilakukannya, fitoplankton mampu menjadi sumber energi bagi seluruh biota laut lewat mekanisme rantai makanan. Walaupun memiliki ukuran yang kecil namun memiliki jumlah yang tinggi sehingga mampu menjadi pondasi dalam piramida makanan di laut ( Sunarto, 2010).
Karena kemampuannya yang dapat membuat makanan sendiri fitoplanton mempunyai kedudukan yang sebagai produsen primer. Tanpa fitoplankton diperkirakan laut yang sangat luas tidak akan dihuni oleh beberapa jenis biota yang mampu hidup dari rantai kehidupan lainnya (Notji, 2002).
3.1.2 Zooplankton
Zooplankton (dari zoon Yunani, atau hewan), protozoa atau metazoans kecil (misalnya krustasea dan hewan lainnya) yang memakan plankton lain dan telonemia. Beberapa telur dan larva hewan lebih besar, seperti ikan, krustasea, dan Annelida, termasuk di sini. Zooplankton merupakan biota yang sangat penting peranannya dalam rantai makanan dilautan. Mereka menjadi kunci utama dalam transfer energi dari produsen utama ke konsumen pada tingkatan pertama dalam tropik ecologi, seperti ikan laut, mamalia laut, penyu dan hewan terbesar dilaut seperti halnya paus pemakan zooplankton ( Notji, 2002).
3.2 Faktor Pembatas Plankton
Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plankton dibagi dalam dua kelompok, yaitu faktor fisik dan faktor kimia :
1. Faktor fisik : cahaya, temperatur air, kekeruhan/kecerahan, pergerakan air
A. Cahaya
Bagi hewan laut, cahaya mempunyai pengaruh terbesar secara tidak langsung, yakni sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh-tumbuhan yang menjadi tumpuan hidup mereka karena menjadi sumber makanan. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam hubungannya dengan perpindahan populasi hewan laut. Laju pertumbuhan fitoplankton sangat tergantung pada ketersediaan cahaya di dalam perairan. Hubungan antara cahaya dan perpindahan hewan laut ini banyak dipelajari, terutama pada plankton hewan (Romimohtarto dan Juwana, 1999).
Menurut Heyman dan Lundgren (1988), laju pertumbuhan maksimum fitoplankton akan mengalami penurunan bila perairan berada pada kondisi ketersediaan cahaya yang rendah.
B. Suhu
Suhu air dapat mempengaruhi sifat fisika kimia perairan maupun biologi, antara lain kenaikan suhu dapat menurunkan kandungan oksigen serta menaikkan daya toksit yang ada dalam suatu perairan. Suhu air mempengaruhi kandungan oksigen terlarut dalam air, semakin tinggi suhu maka semakin kurang kandungan oksigen terlarut. Perkembangan plankton optimal terjadi dalam kisaran suhu antara 25oc – 30oc (Mujib, 2010).
C. Kekeruhan/kecerahan
Kekeruhan sangat mempengaruhi perkembangan plankton, apabila kekeruhan tinggi maka cahaya matahari tidak dapat menembus perairan dan menyebabkan fitoplankton tidak dapat melakukan proses fotosintesis (Mujib, 2010).
D. Pergerakan Air
Arus berpengaruh besar terhadap distribusi organisme perairan dan juga meningkatkan terjadinya difusi oksigen dalam perairan. Arus juga membantu penyebab plankton dari satu tempat ke tempat lainnya dan membantu menyuplai bahan makanan yang dibutuhkan plankton (Mujib, 2010).
2. Faktor kimia : oksigen terlarut, ph, salinitas, nutrisi
A. Derajat Keasaman (ph)
Derajat keasaman (ph) berpengaruh sangat besar terhadap tumbuh-tumbuhan dan hewan air sehingga sering digunakan sebagai petunjuk untuk menyatakan baik atau tidaknya kondisi air sebagai media hidup. Apabila derajat keasaman tinggi apakah itu asam atau basa menyebabkan proses fisiologis pada plankton terganggu (Mujib, 2010).
B. Oksigen Terlarut
Oksigen terlarut diperlukan oleh tumbuhan air, plankton dan fauna air untuk bernapas serta diperlukan oleh bakteri untuk dekomposisi. Dengan adanya proses dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri menyebabkan keadaan unsur hara tetap tersedia di perairan. Hal ini snagat menunjang pertumbuhan air, plankton dan perifiton (Mujib, 2010).
C. Salinitas
Salinitas berperanan penting dalam kehidupan organisme, misalnya distribusi biota akuatik. Menyatakan bahwa pada daerah pesisir pantai merupakan perairan dinamis, yang menyebabkan variasi salinitas tidak begitu besar. Organisme yang hidup cenderung mempunyai toleransi terhadap perubahan salinitas sampai dengan 15 ‰ (Nybakken 1992).
D. Nutrisi
Nutrisi sangat berperan penting untuk pertumbuhan plankton, nutrisi yang paling penting dalam hal ini adalah nitrat ( NO3 ) dan phosphat ( PO4 ) phytoplankton mengkonsumsi nitrogen dalam banyak bentuk, seperti nitrogen dari nitrat, ammonia, urea, asam amino. Tetapi phytoplankton lebih cendrung mengkonsumsi nitrat dan ammonia. Nitrat lebih banyak didapati di dasar yang banyak mengandung unsur organik ketimbang dari air laut, nitrat juga bisa diperoleh dari siklus nitrogen. Nitrogen dari nitrat adalah salah satu unsur penting untuk pertumbuhan blue green alga dan phytoplankton lainnya (Mujib, 2010).
IV. KESIMPULAN
Plankton adalah organisme yang melayang-layang diatas permukaan air laut. Plankton biasanya terbawah oleh arus, karena mereka tidak dapat melawan arus. Plankton dibedakan menjadi dua jenis yaitu, fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan tumbuhan laut yang berperan sebagai produsen primer sedangkan zooplankton adalah hewan lau mempunyai peran sebagai konsumen tingkat pertama. Plankton memiliki peranan penting dalam ekosistem laut, karena mereka sangat penting dalam rantai makanan.
DAFTAR PUSTAKA
Nontji, Anugrah. 2002. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Romimohtarto, Kasijan, Sri Juana. 2005. Biologi Laut Tentang Biota Laut.
Jakarta: Djambatan
Mujib, Abd. Saddam. 2010. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Plankton
[online]. http://wwwsciencelettero7.blogspot.com. Diaksrs pada tanggal 28
September.
Sidiq. 2008. Fungsi planton [online]. http://my.opera.com.diakses. pada tanggal
28 September
Sunarto. 2010. Karakteristik Biologi dan Peranan Plankton Bagi Ekosistem
[online]. http://ataplaut.wordpress.com.diakses pada tanggal 28 September
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kawasan pesisir merupakan daerah perbatasan antara darat dan laut, dimana daerah pesisir ini terdapat sebuah ekosistem yang di sebut ekosistem mangrove. Ekosistem ini membentuk sebuah interaksi antar ekosistem lain. Sehingga membentuk suatu keseimbangan yang dinamis dari masing-masing komponen. Interaksi antara hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang dengan lingkungannya di perairan pesisir bisa memberikan kondisi lingkungan yang sangat cocok bagi berlangsungnya proses biologi dari berbagai macam jenis organisme akuatik. Kawasan pesisir yang memiliki ketiga ekosistem tersebut bisa di katakana perairan yang stabil dan seimbang. Dengan adanya ketiga ekosistem tersebut, biota yang ada di dalam perairan tersebut tidak akan kekurangan makanan karena ketiga ekosistem ini dapat menghasilkan sumber makanan terhadap biota yang ada di dalamnya. Di samping itu, secara ekologis ketiga ekosistem tersebut bisa berperan sebagai penyeimbang stabilitas kawasan pesisir, baik akibat pengaruh dari darat maupun dari laut itu sendiri. Disebutkan oleh (Ridd et al 1994 dan Snedaker 1995), bahwa perairan di sekitar hutan mangrove mempunyai peranan dan memegang kunci dalam perputaran nutrien, sehingga bisa memberikan danpak positif terhadap biota yang ada di dalam perairan tersebut. Begitu juga halnya dengan padang lamun, para pakar mengemukakan bahwa fungsi utama padang lamun adalah berperan dalam pendauran zat hara yang sangat diperlukan bagi kehidupan biota laut.(Peterson, 1991).
Pada zaman era globalisasi ini banyak sekali danpak negativ terhadap perairan laut, sehingga bisa mengurangi atau menghambat pertumbuhan sebuah ekosistem, salah satu faktor tersebut adalah pesatnya kemajuan pembangunan dan tingginya kebutuhan hidup manusia, ini semua sangat berdampak negatif terhadap kualitas dan kuantitas ekosistem perairan laut. Kondisi semacam ini bukanlah hal asing lagi di permasalahkan atau di pertanyakan di dalam forum-forum diskusi. Karena masih pada saat sekarang ini sudah terjadi pada sebagian besar kawasan pesisir di Indonesia, antara lain di kawasan pesisir klampis itu sendiri, dimana di kawasan ini sangat minim sekali sebuah ekosistem yang hidup di perairan tersebut. Oleh karena itu, untuk mengetahui penyebab dari berkurangnya ekosistem tersebut maka kami melakukan sebuah praktikum guna untuk meninjau lebih lanjut tentang informasi berkurangnya sebuah ekosistem tersebut. Dengan adanya praktikum ini sehingga kami bisa mengetahui faktor-faktor apa yang menyebabkan berkurangnya hal tersebut dan nantinya kami bisa mengantisifikasi atau memperbaikinya di masa yang akan datang.
I.2. Tujuan Praktikum
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mangrove
Mangrove adalah tumbuhan yang hidup di antara perairan yang mempunyai pasang tertinggi dan surut terendah yang bersubstrat berpasir, berlumpur dan sedikit berkarang, tetapi juga dapat hidup pada pantai karang, pada dataran koral mati yang diatasnya ditimbuni selaput tipis pasir atau ditimbuni lumpur atau pantai berlumpur (Insyafitri, 2009).
Menurut (KLH, 1993 dan Kitamura dkk. 2003 ). Komunitas mangrove yang ada di Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Dari sekitar 89 jenis spesies mangrove yang tumbuh di dunia, sekitar 51 % spesies tersebut hidup di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk spesies ikutan yang hidup bersama di daerah mangrove. Di Indonesia sendiri terdapat 32 jenis spesies mangrove sejati dan 20 asosiasi mangrove yang tumbuh subur, Jenis-jenis mangrove tersebut antara lain: Avecenia alba, Rhizopora apiculata, Bruguiera parviflora, Bruguiera gymnorhiza, Nypa fruticans, Xylocarpus granatum, Excoecaria agallocha, Pandanus furentus, Bruguiera cylindrica, Soneratia alba, Xylocarpus moluccensis, Camptostemon schultzii, Myristica hollrungii, Heritiera littoralis, Manilkara fasciculata, Inocarpus fagiferus, Pandanus tectorius, Aegiceras corniculatum, Lumnitzera littorea dan Pemphis acidul. (KLH, 1993 dan Kitamura dkk. 2003).
Mangrove merupakan sumber daya hayati pesisir yang sangat penting bagi manusia yaitu sebagai pelindung dan penahan pantai, penghasil bahan organik, bahan industri dan obat-obatan serta sebagai kawasan pariwisata dan konservasi. Ekosistem mangrove yang ada di Indonesia dikenal sebagai kawasan hutan sejenis paling beragam di dunia sekaligus pelabuhan bagi kehidupan berbagai jenis hewan dan tumbuhan, Sebanyak 189 jenis tumbuhan diketahui hidup di kawasan mangrove dan sekitar 35 jenis pohon, 5 jenis terna, 9 jenis perdu, 9 jenis liana, 29 jenis epifit dan 2 jenis parasit berada di hutan mangrove Indonesia (Soemordihardjo dkk., 1993).
Indonesia salah satu Negara yang kaya dengan kekayaan lautnya dengan berbagai ekosistem salah satunya ekosistem mangrove, tetapi masyarakat Indonesia belum menyadarihal tersebut sehingga tidak mempedulikan kekayaannya tersebut, maka hingga saat ini kebanyakan komoditas pesisir di biarkan di rusak oleh masyarakatnya sendiri. Dengan keadaan seperti ini salah satu penunjang kepada kami untuk melakukan praktikum untuk mengetahui dan memahami tentang komoditas mangrove tersebut. (Noor dkk, 2000).
BAB III
METODOLOGI
3.1. Waktu Dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 21 juni 2009. Tempat penelitian yaitu di pantai klampis, Desa Lar genting, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan Madura. Dan untuk mengidentifikasi Plankton serta biota yang ada di sampel sedimen di lakukan pada tanggal 22 juni 2009 di Laboraturium Kelautan Universitas Trunojoyo, Bangkalan Madura.
3.2. Alat Dan Bahan
1. Mangrove
A. Alat
Nama Alat
Transek kuadrat 10 m x 10 m
Label
Kantong plastik
Tali rafia
Tisu
Penggaris
pH pen
Secchi disc
Thermometer
Botol sampel
Bola duga
Refraktometer
Tongkat duga
Kegunaan
Sebagai transek
Memberi nama pada sampel
Tempat sampel
Sebagai kerangka transek
Membersihkan alat
Membuat table pengamatan
Mengukur pH
Mengukur kecerahan
Mengukur suhu
Tempat sampel berupa cairan
Mengukur arus
Mengukur salinitas
untuk mengetahui kedalama
B. Bahan
1. Sampel daun, bunga, buah dan akar dari mangrove.
2. Sampel sedimen dari mangrove.
2. Lamun
A. Alat
B. Bahan
3. Algae
A. Alat
B. Bahan
4. Plankton
A. Alat
B. Bahan
3.3. Cara Kerja
I). Mangrove
bisa dilihat. Menghidung dengan rumus kecerahan = K1 + K2 / 2.
2). Lamun
3). Algae
4). Plankton
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.I. Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Ø Transek 1
1. Jenis : Rhizophora stylosa
http:// http://www.google.com
Sistematika Rhizophora stylosa :
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Malpighiales
Family : Rhizophoraceae
Genus : Rhizophora
Spesies : R.stylosa
Rhizophora stylosa merupakan tumbuhan yang termasuk ke dalam tumbuhan tingkat tinggi yang memiliki batang yang kokoh, kebanyakan tegak dan memiliki percabangan. Batang berwarna kecoklatan, permukaan batang tidak rata serta memiliki akar tunjang yaitu akar yang terdapat di atas permukaan tanah dengan pangkal akar berasal dari pangkal batang dan ujung akar menembus tanah dan kuat. Akar berwarna keputih-putihan pada daerah yang tidak dekat dengan permukaan tanah, akar yang dekat dengan permukaan berwarna lebih gelap. Pada umumnya akar tanaman ini cukup tinggi di atas permukaan tanah. Akarnya memiliki penampakan yang kokoh dan kuat serta tidak mudah patah (lentur namun keras).
http://www.google.com http://www.google.com
Letak bunga bunga
Rhizophora stylosa memiliki daun yang umumnya berwarna hijau agak kekuningan pada pangkal daunnya serta terdapat bintik-bintik kecil berwarna hitam namun tidak terlalu banyak. Memiliki bentuk daun yang elliptical yaitu memiliki bentuk ujung dan pangkal daun yang sama. Apabila daun dilipat pada bagian tengah, akan tegak lurus tulang daun, maka akan didapatkan bentuk simetri daun. Daun single dan terletak sejajar antara daun satu dengan daun yang lain dalam satu tangkai, saling bersisihan atau berseberangan dan memiliki panjang daun antara 10-18 cm.
Bunga pada Rhizophora stylosa termasuk dalam bunga cyme dicotom, yang terdiri dari 16 atau lebih bunga dalam satu tangkai bunga, yang terletak secara aksilar pada cabang bunga. Satu bunga memiliki empat buah mahkota bunga yang berwarna putih. Selain itu juga memiliki empat buah kelopak bunga yang berwarna kuning kehijauan.
Buah dari rhiziphora stylosa berbentuk silindris dengan permukaan buah licin yang mempunyai panjang hingga mencapai 30 cm dan berwarna hijau sampai kekuning-kuningan, tetapi pada bagian pangkal buah berwarna hijau dengan daun hijau menghadap ke atas yang berwarna hijau ke kuningan.
Dari apa yang kami bahas di atas, itu berdasarkan hasil praktikum yang kami lakukan langsung di lapang. Maka setelah kami cocokkan dengan pembahasan yang ada di literature maka semuanya sama tidak ada perbedaan antara yang ada di literatur dengan apa yang kami amati di lapang.
2. Jenis : Ceriops tagal
http:// http://www.google.com
Sistematika Ceriops tagal:
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Malpighiales
Family : Rhizophoraceae
Genus : Ceriops
Species : Ceriops Tagal
Ceriops tagal merupakan jenis mangrove yang memiliki penampakan sebagai pohon dan semak. Jenis mangrove ini yang ditemukan di perairan Klampis berupa pohon yang memiliki ketinggian 1-1,8 meter, namun demikian pohon ini sebenarnya dapat tumbuh sampai 6 m. Batang pohon berwarna coklat muda dan ada yang berwarna abu-abu serta permukaan batang tidak kasar. Ceriops tagal memiliki sistem perakaran butress atau papan yang berwarna coklat gelap dan agak kehitaman karena tertutup oleh substrat
http://www.google.com http:// http://www.google.com
Daun Percabangan Daun
Tangkai daun Ceriops tagal terletak pada bagian yang lebih sempit dan tersusun sendiri atau single. Bentuk daun seperti telur yang ujungnya tumpul dan berwarna hijau yang panjangnya mencapai 4-10 cm serta memiliki permukaan yang licin.
http://www.google.com http://www.google.com
Bunga Buah
Bunga Ceriops tagal tersusun dalam susunan cyme, setandan, sekelompok bunga, biasanya cembung atau datar di bagian atas, bentuknya bervariasi, memiliki berbagai macam sudut percabangan tetapi bunga yang paling tua selalu terletak di ujung cabang. Berdasarkan letak bunga pada tanaman, bunga tergolong bunga aksilar, muncul dari sudut yang terbentuk antara daun di atasnya dengan batang atau tangkai. Bunga Ceriops tagal tersusun 5-10 bunga. Bunga memiliki kelopak berwarna hijau, berjumlah 5 kelopak. Mahkota bunga berjumlah 5 buah, berwarna puith dan abu-abu bunga terdapat pada cabang yang panjang.
Buah Ceriops tagal berbentuk silindris dengan panjang 25 cm atau lebih. Buah berwarna hijau, ada penonjolan, tidak rata. Bagian ujung buah berwarna kecoklatan. Bagian pangkal batang berwarna kecoklatan.
3. Jenis : Lumnitzera Racemosa
Sistematika Lumnitzera Racemosa:
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Myrtales
Family : Combretaceae
Genus : Lumnitzera
Spesies : Lumnitzera racemosa
Spesies Lumnitzera racemosa memiliki habitus berupa pohon atau semak. Pada lokasi pengamatan spesies ini ditemukan dalam habitat pohon. Dengan ketinggian mencapai 3 meter. Warna batang coklat kehitaman. Sistem perakaran berupa no prominent aerial roots, yaitu perakaran seperti pohon selayaknya. Akar berada di bawah tanah sehingga sulit diamati.
Daun tersusun secara alternate dan merupakan daun tunggal yang letaknya bersebrangan pada atas dan bawah tiap sisi pada cabang yang sama namun tidak tepat sejajar. Daun berwarna hijau dengan permukaan yang halus dan rata. Ujung daun berbentuk emarginate yaitu berbelah dua membentuk huruf M. Tangkai daun memiliki bentuk obovate, seperti telur dengan tangkai daun terletak pada bagian yang sempit. Ukuran daun antara 2-4 cm
Bunga Lumnitzera racemosa memiliki mahkota berwarna putih dengan jumlah mahkota antara 4 – 5 buah, susunannya bergerombol dalam tandan-tandan yang tersusun pada ujung percabangan daun pada ketiak-ketiak daun.
Buah Lumnitzera racemosa berbentuk seperti gelas piala panjang berwarna hijau bergerombol dalam tandan-tandan yang tersusun pada ujung percabangan daun pada ketiak-ketiak daun.
4. Jenis : Ceriops Decandra
Ceriops decandra adalah family dari Rhizophoraceae yang merupakan Pohon atau semak kecil dengan ketinggian hingga 15 m. Kulit kayu berwarna coklat, jarang berwarna abu-abu atau putih kotor, mempunyai permukaan kulit yang halus, rapuh dan menggelembung di bagian pangkal. Daun berbentuk bulat memanjang dan ujung daun berbentuk seperti telur membulat yang berukuran 3-10 x 1-4,5 cm. yang berwarna hijau mengkilap dan daun mengumpul di ujung cabang. Bunga terletak di ketiak daun yang berbentuk mengelopak, menempel dengan gagang yang pendek, tebal dan bertakik. Di dagian bawah bunga terdapat kelopak bunga yang berwarna hijau dan terdapat 5-6 daun mahkota yang berwarna putih dan kecoklatanjika tua, serta terdapat lentisel dan berbintil. Benang sari, ukuran tangkai benang sari sama atau lebih pendek dari kepala sari. Buah, Hipokotil berbentuk silinder, ujungnya menggelembung tajam dan berbintil, warna hijau hingga coklat. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/ dewasa. Yang mempunyai panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm.
Tumbuhan ini tersebar di sepanjang hutan pasang surut, akan tetapi lebih umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan tambak pantai. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Perbungaan terjadi sepanjang tahun.
Menurut penjelasan yang kami paparkan di atas, setelah kimi baca di literatur penjelasan jenis mangrove ini tidak terjadi perbedaan sama sekali dengan apa yang kami amati di lapang. Maka dengan adanya seperti ini perairan klampis bisa di katakana masih relativ bagus.
Dari ke empat jenis mangrove yang telah kami identifikasi di atas, mempunyai parameter lingkungan yang sama antara lain suhu berkisar antara 30 0c, salinitas 32 ppt, kecerahan 13 cm, kedalaman 72 cm dan kecepatan arus 3,25 m/det2. Selain itu juga keempat jenis mangrove ini mempunyai substrat yang sama yaitu berlumpur, sedikit berpasir dan ber karang.
Ø Transek II
1. Jenis : Sonneratia caseolaris
Sistematika Sonneratia caseolaris:
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Myrtales
Family : Lythraceae
Genus : Sonneratia
Species : Sonneratia caseolaris
Spesies Sonneratia caseolaris memiliki habitus berupa pohon seperti yang nampak pada lokasi pengamatan. Ketinggian Sonneratia caseolaris bisa mencapai 16 meter. Warna batang coklat matang. Batang sonneratia caseolaris halus dengan bekas jaringan batang atau belahan kulit batang. Batang berbentuk bulat atau bundar.
Sistem perakaran Sonneratia caseolaris merupakan perakaran pneumatofor yang merupakan perakaran napas. Akar keluar dari dalam tanah seperti pensil, tegak ke permukaan, lancip, berwarna coklat muda sampai coklat tua. Kulit akar mudah mengelupas. Bagain dalam akar berwarna merah. Akar napas ini berasal dari akar pokok yang berada di dalam tanah. Akar yang tua dan tergenang oleh air diselimuti oleh lumut.
Daun Sonneratia caseolaris adalah daun tunggal, simple. Daun tersusun secara opposite. Daun yang satu dengan daun yang lain tepat berberangan sejajar pada cabang yang sama, tersusun sepasang-sepasang. Daun berwarna hijau dengan permukaan yang rata dan halus, licin. Daun memiliki bentuk obovate, seperti telur dengan tangkai daun terletak pada bagian yang sempit. Ujung daun berbentuk tumpul dengan bagian tengah ujung daun berlekuk. Ukuran daun antara 5-10 cm.
Jenis mangrove ini hidup di daerah perairan yang mempunyai suhu 27-300c, salinitas 32 ppt, kecerahan 13 cm dengan kedalaman 72 cm daan kecpatan arus 3,25 cm/detik2.
Biota yang hidup di dalam sedimen hutan mangrove antara transek I dan transek II yang telah kami amati di lapangan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
Dengan adanya biota yang hidup di perairan ini, maka terjadi interaksi biologis dalam sistem rantai makanan sehingga membentuk kehidupan. Karena mangrove itu sendiri sebagai produsen primer maka biota yang hidup di dalam ekosistem mangrove itu akan bergantung kepada tumbuhan mangrove itu sendiri. Dan biota tersebut menghasilkan zat hara yang kemudian di serap oleh ekosistem perairan terutama ekosistem mangrove.
4.2. LAMUN
A. jenis : thalasia hemprichii
spesies thalasia hemprichii ini memiliki warna daun hijau muda dan teksturnya tipis, tidak mempunyai stomata serta bentuk daun memanjang antara 100-300 mm. Lamun ini dapat berfotosintesis dengan kloroplas sehingga lamun ini tidak dapat hidup di perairan yang tidak terkena sinar matahari. Jenis lamun thalaia hemprichii merupakan termasuk kedalam jenis tumbuhan tinggi karena mempunyai sistem perakaran yaitu akar serabut dan barang rhizome serta mempunyai rimpang yang berdiameter 2-4 mm tanpa rambut-rambut kaku.
Thalassia hemprichii merupakan tumbuhan lamun yang kuat dengan kekeruhan perairan dan kandungan fosfat sedimen, parameter lingkungan lamun ini yaitu : suhu berkisar antar 29-45 0c, salinitas 27-35 ppt, dan PH < 7. Ekosistem lamun menurut fungsi ekologinya yaitu sebagai produsen primer, sebagai mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak dengan sistem perakaran yang padat, sebagai penahan hantaman ombak ke pantai serta sebagai tempat berlindung atau mencari makan dan memijah bagi beberapa jenis ikan tertentu.
4.3. Alga
a) Jenis : Neomeris Vanbossiae
Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun komposisi senyawa kimianya. Alga ini ada berbentuk uniseluler (contoh Chlorococcus sp), koloni (Volvox sp), benang (filamen) (contoh Spyrogyra sp) serta bercabang atau pipih (contoh Ulva sp, Sargasum sp dan Euchema sp).
Ciri-ciri lainnya pada alga adalah, alga ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Itulah sebabnya alga tidak dapat digolongkan sebagai tumbuhan (plantae). Di dalam sel alga terdapat berbagai plastida yaitu organel sel yang mengandung zat warna (pigmen). Plastida yang terdapat pada alga terutama kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Sehingga alga bersifat autotrof karena dapat menyusun sendiri makanannya berupa zat organik dan zat-zat anorganik.
Neomeris Vanbossiae adalah alga merah yang merupakan salah satu kelas dari ganggang rhodophyta. berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna merah pada ganggang ini disebabkan oleh pigmen fikoeritrin yang mendominasi ganggang ini dibandingkan pigmen klorofil, Karoten, dan Xantofil. Ganggang ini pada umumnya berinti sel banyak (multiseluler) dan makroskopis. Yang dapat mencapai panjang antara 10 Cm sampai 1 M dan berbentuk benang atau lembaran.
Sebagian besar ganggang merah hidup di laut, yang kebanyakan terdapat di laut tropika. Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen. Selain itu ada pula yang hidup di air payau. Ganggang merah yang banyak ditemukan di laut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedang Euchema spinosum ditemukan di laut dangkal.
b) Jenis : Sargassum Abbotiae.
http:// www.google.com
Alga jenis Sargassum Abbotiae merupakan trmasuk kedalam kelas phaeophyta dan divisi dari protista yang pada umumnya disebut brown algae yaitu alga coklat. berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Warna coklat pada ganggang ini disebabkan oleh pigmen xantophil sehingga alga ini berwarna coklat.
Ciri-ciri lainnya pada alga adalah, alga ini tidak memiliki akar, batang dan daun sejati. Tubuh seperti ini dinamakan talus. Itulah sebabnya alga tidak dapat digolongkan sebagai tumbuhan (plantae). Di dalam sel alga terdapat berbagai plastida yaitu organel sel yang mengandung zat warna (pigmen). Plastida yang terdapat pada alga terutama kloroplas mengandung pigmen klorofil yang berperan penting dalam proses fotosintesis. Sehingga alga bersifat autotrof karena dapat menyusun sendiri makanannya berupa zat organik dan zat-zat anorganik.
4.4. Plankton
Plankton adalah mikro-organisme yang hidup dalam zona pelagik (bagian atas) yang mempunyai kemampuan renangnya terbatas sehingga mudah terbawa arus, angin dan gelombang. yang ditemui hidup diperaliran, baik di sungai, danau, waduk, maupun diperaliran payau dan laut. Mikro organisme ini baik dari segi jumlah dan jenisnya sangat banyak. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem mata rantai makanan food chain dan jaring makanan food web. Mereka menjadi pakan bagi sejumlah konsumen dalam sistem mata rantai makanan dan jaring makanan ini.
Mikro organisme (Plankton) ini ada yang dapat bergerak aktif sendiri seperti satwa/hewan dan kita sebut dengan Plankton Hewani (ZooPlankton), dan ada juga Plankton yang dapat melakukan assimilasi (photosynthesis) seperti halnya tumbuhan di darat, kelompok ini kita sebut dengan Plankton Nabati (PhytoPlankton).
Plankton nabati ( Phytoplankton ) merupakan kelompok produsen dalam sistem mata rantai makanan. Mereka dapat melakukan aktivitas hidupnya sendiri dengan memanfaatkan cahaya matahari. Sedangkan Plankton hewani (zooplankton) harus melakukan aktivitas makan untuk mempertahankan eksistensinya.
Plankton, baik itu Plankton Hewani (ZooPlankton) maupun Plankton Nabati ( PhytoPlankton ) dalan sistem akuarium laut, merupakan pakan alami bagi ikan dan koral yang hidup didalamnya. Mereka tergolong pakan yang memiliki nilai gizi yang tinggi, memiliki bentuk dan ukuran yang sesuai dengan mulut ikan dan koral, isi sel-nya padat, dinding sel-nya tipis, serta tidak beracun.
Jenis Plankton yang terdapat di perairan klampis yang telah di amati merupakan jenis zooplankton diantaranya : Gyrosigma fasciola. Chaetoceros decipiens, Rhizosolenia castrocanai, Rhizosolenia alataforma, Nitzschia sigma, Chaeroceros, Pleurosigma affin, niez Schia seriata, Pluerosigma, N. Langissima, pleurosigma Eigidum. Plankton dan Bentos merupakan organisme perairan yang keberadaannya dapat dijadikan indikator perubahan kualitas biologi perairan. Plankton memegang peran penting dalam mempengaruhi produktifitas primer perairan sungai. Para pakar ilmuan menyebutkan bahwa beberapa organisme plankton bersifat toleran dan mempunyai respon yang berbeda terhadap perubahan kualitas perairan.
4.5. Zonasi Dan Interaksi Antar Semua Ekosistem
Zonasi Ekosistem Laut
Interaksi antara ketiga ekosistem laut tropis (modifikasi Ogden dan Gladfelter)
Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Interaksi antar komponen ekologi merupakan interaksi antar organisme, antar populasi, dan antar komunitas. Semua makhluk hidup selalu bergantung kepada makhluk hidup yang lain. Tiap individu akan selalu berhubungan dengan individu lain yang sejenis atau lain jenis, baik individu dalam satu populasinya atau individu-individu dari populasi lain. Antara populasi yang satu dengan populasi lain selalu terjadi interaksi secara langsung atau tidak langsung dalam komunitasnya dan interaksi antar organisme dalam komunitas, ada yang sangat erat dan ada yang kurang erat.
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, mangrove, lamun, ganggang, ikan, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas tersebut mengakibatkan terjadinya interaksi dalam bentuk peredaran nutrien melalui air dan peredaran organisme hidup dari masing-masing komunitas tersebut. Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antarkomunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon.
Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubunganantara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi. Aliran materi dan energi dalam suatu perairan dapat disederhanakan sebagai suatu sistem rantai makanan.
Seperti diketahui, bahwa setiap mahluk hidup makan untuk mendapatkan energi bagi kepentingan proses metabolismenya, untuk membangun jaringan baru, dan atau memperbaiki jaringan yang rusak. Hampir seluruh energi ini berasal dari sinar matahari. Sebagian mahluk hidup dapat langsung menggunakan energi matahari ini, seperti: tanaman, algae, dan bakteri fotosintesis (cyano-bacteria atau algae hijau-biru). Mahluk-mahluk hidup ini menangkap sinar matahari dengan semacam pigmen khusus yang disebut sebagai klorofil, selanjutnya energi matahari ini digunakan untuk menggabungkan karbondioksida dan air untuk membentuk molekul gula (glukosa). Proses ini dikenal sebagai proses fotosintesis. Pada proses fotosintesis oksigen akan dihasilkan sebagai hasil samping reaksi. Untuk memicu proses-proses dalam sel, gula hasil fotosintesis tersebut kemudian akan dipecah ke elemen semula untuk mendapatkan kembali energi yang tersimpan didalamnya. Proses ini dikenal sebagai respirasi. Dalam proses respirasi oksigen diperlukan untuk membakar gula.
Mahluk hidup lain yang tidak memiliki kemampuan berfotossintesis, menggunakan energi matahari ini dengan cara menkonsumsi mahluk fotosintesis tersebut diatas. Dan begitu selanjutnya sehingga terbentuk suatu rantai makanan. Secara umum mahluk hidup tergolong tidak efisien dalam memanfaatkan makanan yang dikonsumsinya. Biasanya hanya 10-20 persen saja dari makanan yang dikonsumsi tersebut menjadi bagian dari tubuhnya.
Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru.
4.6. Parameter Lingkungan
Parameter lingkungan sangat mendukung terhadap pertumbuhan suatu ekosistem terutama pertumbuhan ekosistem mangrove, lamun, alga, maupun plankton. Para meter lingkungan ini mencakup suhu, salinitas, kecepatan arus, kecerahan, dan kedalaman. Untuk para meter lingkungan mangrove yang telah kami amati pada praktikum kali ini diantaranya : untuk transek I, suhu berkisar 30 0c, salinitas 32 ppm, kecepatan arus 5 m/detik2, Kecerahan 17 cm, kedalaman 75 cm. Dan untuk transek ke II parameter lingkungan yang di peroleh antaralain suhu berkisar 30 0c, salinitas 32 ppm, kecepatan arus 3,25 m/detik2, kecerahan 13 cm, kedalaman 72 cm. pertumbuhan mangrove sangat bergantung dengan keadaan lingkungan apabila parameter lingkungan tersebut bagus maka sebuah ekosistem tersebut akan berkembang sangat baik dan begitu sebaliknya. Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan parameter lingkungan terhadap sebuah ekosistem, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup terhadap ekosistem tersebut.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
5.2. Saran
1. Dalam melaksanakan praktikum ekologi laut, seharusnya memilih lokasi yang kita akan amati itu bnar-benar perairannya itu lengkap semua ekosistemnya, agar tidak memakan waktuyang cukup lama.
2. Kepada praktikan harus benar-benar aktif di dalam praktikum supaya praktikum berjalan dengan lancar dan untuk menghemat waktu.
3. Kepada asisten supaya benar-benar membimbing dan mendampingi peserta praktikum, untuk memberi arahan-arahan kepada pesertanya.
4. Kepada asisten praktikum, di usahakan ada sebuah kerjasama antara asisten yang satu dengan yang lainnya supaya tidak ada perbedaan pendapat tentang hasil praktikan yang di berikan oleh peserta praktik.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Sistematika Ceriops Tagal. Diakses dari http://www.wikipedia.com. pada tanggal 26 Juni 2009 pukul 19.30 WIB
Anonim, 2009. Sistematika Lumnitzera Racemosa. Diakses dari http://www.wikipedia.com. pada tanggal 26 Juni 2009 pukul 20.00 WIB
Anonim, 2009. Sistematika Rhizophora Stylosa. Diakses dari http://www.wikipedia.com. pada tanggal 26 Juni 2009 pukul 19.45 WIB
Anonim, 2009. Sistematika Sonneratia Caseolaris. Diakses dari http://www.wikipedia.com. pada tanggal 26 Juni 2009 pukul 20.30 WIB
Badruttamam, 2009. Pengantar Ekologi Laut. Universitas Trunojoyo : Bangkalan Madura
Basmi, 1997. Pertumbuhan dan Produksi Lamun. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor
Indah Wahyu Abida, 2009. Pengantar Biologi Laut I. Universitas Trunojoyo : Bangkalan Madura
Insyafitri,2009. Pengantar Ekologi Laut. Universitas Trunojoyo: Bangkalan Madura
Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995. Klasifikasi Aegiceras Floridum. Diakses dari http://www.MarineSpecies.org. pada tanggal 27 Juni 2009 pukul 13.50 WIB
Nibakken, 1988. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Pesisir. Balai Penelitian Biologi Laut: Jakarta
Nienhuis, 1993. Handbook Of Mangroves in Indonesia. MIC: Denpasar
Nontji, 1984, Klasifikasi Xylocarpus Moluccensis. Diakses dari http://www.MarineSpecies.org. pada tanggal 27 Juni 2009 pukul 13.23 WIB
Pelezar dan Chan, I 986. Sistematika Lumnitzera Racemosa. Diakses dari http://enwikipedia.org/wiki/combretaceae, pada tanggal 28 Juni 2009 pukul 10.00 WIB
Romimohtarto dan Juwana, 2001. Sistematika Ceriops Tagal. Diakses dari http://www.wikipedia.com. pada tanggal 27 Januari 2009. pukul 13.15 WIB
Sachlan, 1972. Ekosistem Pantai. Hand out kuliah. Laboraturium Geomorfologi Terapan. Jurusan Geofisik. Fakultas Geografi UGM
Stanier et al, 1976. Sistematika Pemphis Acidula. Diakses dari http://enwikipedia.org/wiki/lytraceae, pada tanggal 27 Juni 2009 pukul 10.02 WIB
“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno) Baca lebih lanjut
Ilmu kelautan merupkan salahsatu jurusan yang mempunyai lowongan di dalam dunia kerja yang sangat luas di sebabkan karena di dalam mata pelajaran atau mata kuliahnya mengarah ke dunia kerja, yang mengelolah hasil laut serta membudidayakan komoditas laut yang sangat mahal di dalam perekonomian masyarakat. sehingga dengan demikian jurusan ilmu kelautan bisa di katakan sudah membimbing ke dalam dunia kerja dan membimbing supaya kita bisa menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa kita harus ikut ke dalam pekerjaan orang lain dengan kata lain kita di bimbing untuk mandiri. Baca lebih lanjut
Dikatakan bahwa setiap diri kita terdapat titik yang dinamakan the GOD SPOT
hal yang nyata yang dapat kita rasakan sehari2 yaitu suara hati..atau istilah lazimnya Bisikan hati nurani. Setiap manusia yang lahir dimuka bumi mempunyai sifat2 ini dan disebut dengan anggukan Universal…dimana hal2 itu seperti jujur,tanggung jawab,integritas dan lain2.Latihlah mendengarkan suara hati anda. Baca lebih lanjut
SEBELUM KITA MENGELUH………..
1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali.
2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.
3. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan.
4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk di dalam hidupnya.
5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istrimu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup. Baca lebih lanjut